Senin, 11 Juni 2012

Aplikasi Psikologi dalam Pendidikan


Tentang Aplikasi Teori Kebutuhan Maslow di Sekolah

Pemikiran Maslow tentang Teori Hierarki Kebutuhan Individu sudah dikenal luas, namun aplikasinya untuk kepentingan pendidikan siswa di sekolah tampaknya belum mendapat perhatian penuh. Secara ideal, dalam rangka pencapaian perkembangan diri siswa, sekolah seyogyanya dapat menyediakan dan memenuhi berbagai kebutuhan siswanya.
Berikut ini ringkasan tentang beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan di sekolah dalam mengaplikasikan teori kebutuhan Maslow.
1. Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis:
§                     Menyediakan program makan siang yang murah atau bahkan gratis.
§                     Menyediakan ruangan kelas dengan kapasitas yang memadai dan temperatur yang tepat
§                     Menyediakan kamar mandi/toilet dalam jumlah yang seimbang.
§                     Menyediakan ruangan dan lahan untuk istirahat bagi siswa yang representatif.
2. Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman:
§                     Sikap guru: menyenangkan, mampu menunjukkan penerimaan terhadap siswanya, dan tidak menunjukkan ancaman atau bersifat menghakimi.
§                     Adanya ekspektasi yang konsisten
§                     Mengendalikan perilaku siswa di kelas/sekolah dengan menerapkan sistem pendisiplinan siswa secara adil.
§                     Lebih banyak memberikan penguatan perilaku (reinforcement) melalui pujian/ ganjaran atas segala perilaku positif siswa dari pada pemberian hukuman atas perilaku negatif siswa.
3. Pemenuhan Kebutuhan Kasih Sayang atau Penerimaan:
a. Hubungan Guru dengan Siswa:
§                     Guru dapat menampilkan ciri-ciri kepribadian : empatik, peduli dan intereres terhadap siswa, sabar, adil, terbuka serta dapat menjadi pendengar yang baik.
§                     Guru dapat menerapkan pembelajaran individua dan dapat memahami siswanya (kebutuhan, potensi, minat, karakteristik kepribadian dan latar belakangnya)
§                     Guru lebih banyak memberikan komentar dan umpan balik yang positif dari pada yang negatif.
§                     Guru dapat menghargai dan menghormati setiap pemikiran, pendapat dan keputusan setiap siswanya.
§                     Guru dapat menjadi penolong yang bisa diandalkan dan memberikan kepercayaan terhadap siswanya.
b. Hubungan Siswa dengan Siswa:
§                     Sekolah mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kerja sama mutualistik dan saling percaya di antara siswa
§                     Sekolah dapat menyelenggarakan class meeting, melalui berbagai forum, seperti olah raga atau kesenian.
§                     Sekolah mengembangkan diskusi kelas yang tidak hanya untuk kepentingan pembelajaran.
§                     Sekolah mengembangkan tutor sebaya
§                     Sekolah mengembangkan bentuk-bentuk ekstra kurikuler yang beragam.
4. Pemenuhan Kebutuhan Harga Diri:
a.  Mengembangkan Harga Diri Siswa
§                     Mengembangkan pengetahuan baru berdasarkan latar pengetahuan yang dimiliki siswanya (scaffolding)
§                     Mengembangkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa
§                     Memfokuskan pada kekuatan dan aset yang dimiliki setiap siswa
§                     Mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi
§                     Selalu siap memberikan bantuan apabila para siswa mengalami kesulitan
§                     Melibatkan seluruh siswa di kelas untuk berpartisipai dan bertanggung jawab.
§                     Ketika harus mendisiplinkan siswa, sedapat mengkin dilakukan secara pribadi, tidak di depan umum.
b. Penghargaan dari pihak lain
§                     Mengembangkan iklim kelas dan pembelajaran kooperatif dimana setiap siswa dapat saling menghormati dan mempercayai, tidak saling mencemoohkan.
§                     Mengembangkan program “star of the week”
§                     Mengembangkan program penghargaan atas pekerjaan, usaha dan prestasi yang diperoleh siswa.
§                     Mengembangkan kurikulum yang dapat mengantarkan setiap sisiwa untuk memiliki sikap empatik dan menjadi pendengar yang baik.
§                     Berusaha melibatkan para siswa dalam setiap pengambilan keputusan yang terkait dengan kepentingan para siswa itu sendiri.
c. Pengetahuan dan Pemahaman
§                     Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengeksplorasi bidang-bidang yang ingin diketahuinya.
§                     Menyediakan pembelajaran yang memberikan tantangan intelektual melalui pendekatan discovery-inquiry
§                     Menyediakan topik-topik pembelajaran dengan sudut pandang yang beragam
§                     Menyediakan kesempatan kepada para siswa untuk berfikir filosofis dan berdiskusi.
d. Estetik
§                     Menata ruangan kelas secara rapi dan menarik
§                     Menempelkan hal-hal yang menarik dalam dinding ruangan, termasuk di dalamnya memampangkan karya-karya seni siswa yang dianggap menarik.
§                     Ruangan dicat dengan warna-warna yang menyenangkan
§                     Memelihara sarana dan pra sarana yang ada di sekeliling sekolah
§                     Ruangan yang bersih dan wangi
§                     Tersedia taman kelas dan sekolah yang tertata indah
5. Pemenuhan Kebutuhan Akatualisasi Diri
§                     Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk melakukan yang terbaiknya
§                     Memberikan kekebasan kepada siswa untuk menggali dan menjelajah kemampuan dan potensi yang dimilikinya
§                     Menciptakan pembelajaran yang bermakna dikaitkan dengan kehidupan nyata.
§                     Perencanaan dan proses pembelajaran yang melibatkan aktivitas meta kognitif siswa.
§                     Melibatkan siswa dalam proyek atau kegiatan “self expressive” dan kreatif.

Pemicu Kanker


Waw, Mendengkur Bisa Picu Kanker

Ghiboo.com - Temuan terbaru yang dipublikasikan dalamAmerican
Journal of Respiratory and Critical Care Medicine menunjukkan mendengkur saat tidur dikaitkan dengan naiknya risiko kanker hingga lima kali lipat.

Temuan ini merupakan bukti epidemiologi yang baru-baru ini dirilis dengan mengungkapkan bahwa mendengkur dan gangguan pernafasan tidur (SBD) dapat menghilangkan jumlah oksigen yang cukup dalam tubuh selama berjam-jam pada suatu waktu. Menurut ilmuwan, memiliki kadar oksigen yang rendah dalam darah dapat memicu kanker.

Para peneliti dari Amerika menggunakan data dari penelitian mengenai tidur yang melibatkan 1.522 orang dan menemukan bahwa orang dengan SDB berat memiliki risiko 4,8 kali lebih mungkin mengembangkan kanker daripada mereka yang tidak memiliki masalah seperti itu.

Selain itu, hasil penelitian dari tim peneliti dari University of Wisconsin-Madison juga menunjukkan orang dengan SBD menengah memiliki risiko dua kali lipat. Sementara orang dengan hanya sedikit masalah pernafasan saat tidur memiliki kesempatan peningkatan risiko kanker hingga 10 persen.

Hingga kini, gangguan tidur yang paling umum adalah sleep apnea obstruktif. Sleep apnea juga berkaitan erat dengan sejumlah masalah kesehatan lainnya, seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, serangan jantung dan stroke.

"Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menunjukkan terdapat hubungan antara SBD dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker berdasarkan sampel populasi," papar peneliti Dr Javier Nieto dilansir melalui The Telegraph (22/5).

Sebelumnya, studi laboratorium juga menunjukkan bahwa hipoksia intermiten (kadar oksigen rendah) meningkatkan pertumbuhan tumor pada tikus dengan kanker kulit. Kekurangan oksigen merangsang generasi pembuluh darah yang memberi makan tumor, atau proses ini dikenal sebagai angiogenesis.

Pertumbuhan Peserta Didik TK


PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK TAMAN KANAK-KANAK
Pertumbuhan diartikan sebagai perubahan alamiah secara kuantitatif pada segi jasmaniah atau fisik dan atau menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu yang baru (yang tadinya belum tampak) dari organisme atau individu. Konsep pertumbuhan mempunyai makna luas, mencangkup segi-segi kuantitatif dan kualitatif serta aspek-aspek fisik-psikis seperti yang terkandung dalam istilah-istilah pertumbuhan, kematangan dan belajar atau pendidikan dan latihan. Belajar atau pendidikan menunjukkan kepada perubahan pola-pola sambutan atau perilaku dan aspek-aspek kepribadian tertentu sebagai hasil usaha individu atau organisme yang bersangkutan dalam batas-batas waktu setelah tiba masa pekanya. Dengan demikian, dapat dibedakan bahwa perubahan-perubahan perilaku dan pribadi sebagai hasil belajar itu berlangsung secara intensional atau dengan sengaja diusahakan oleh individu yang bersangkutan, sedangkan perubahan dalam arti pertumbuhan dan kematangan berlangsung secara alamiah menurut jalannya pertambahan waktu atau usia yang ditempuh oleh yang bersangkutan. Pertumbuhan terbatas pada perubahan-perubahan yang bersifat evolusi (menuju ke arah yang lebih sempurna). Perubahan-perubahan aspek fisik dapat diidentifikasikan relative lebih mudah manifestasinya karena dapat dilakukan pengamatan langsung seperti tinggi dan berat badan, tanggal dan tumbuhnya gigi dan sebagainya. Lain halnya dengan segi-segi psikis yang relative sulit diidentifikasi karena kita hanya mengamati dan sampai batas tertentu.
Perkembangan diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis. Perkembangan juga bertalian dengan beberapa konsep pertumbuhan (growth), kematangan (maturation), dan belajar (learning) serta latihan (training). Perkembangan individu dapat ditujukan dengan munculnya atau hilangnya, bertambah atau berkurangnya bagian-bagian, fungsi-fungsi atau sifat-sifat psikofisis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang sampai batas tertentu dapat diamati dan diukur dengan mempergunakan teknik dan instrument yang sesuai. Contoh perkembangan proses berpikir, kemampuan berbahasa dan lain-lain.


I.  PERKEMBANGAN FISIK
A. Usia Anak
            Taman kanak-kanak  adalah jenjang pendidikan anak usia dini (yakni usia 6 tahun atau di bawahnya) dalam bentuk pendidikan formal. Kurikulum TK ditekankan pada pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Lama masa belajar seorang murid di TK biasanya tergantung pada tingkat kecerdasannya yang dinilai dari rapor per semester. Secara umum untuk lulus dari tingkat program di TK selama 2 (dua) tahun, yaitu:
  • TK 0 (nol) Kecil (TK kecil) selama 1 (satu) tahun
  • TK 0 (nol) Besar (TK besar) selama 1 (satu) tahun
      Umur rata-rata minimal kanak-kanak  dapat belajar di sebuah taman kanak-kanak berkisar 4-5 tahun sedangkan umur rata-rata untuk lulus dari TK berkisar 6 tahun. Setelah lulus dari TK, murid kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi di atasnya, yaitu Sekolah Dasar atau yang sederajat.
            TK merupakan bentuk satuan pendidikan bagi anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak usia 4tahun sampai 6 tahun, yang terbagi menjadi dua kelompok: TK A untuk anak usia 4 – 5 tahun, TK B untuk anak usia 5-6 tahun.
1)   Perkembangan Anak Usia 4 – 5 tahun
      Anak usia 4-5 tahun sangat aktif dan energik. Kebanyakan waktunya dihabiskan untuk bermain, misalnya berlari, melompat dan memanjat. Anak juga suka bermain peran, misalnya menjadi dokter-dokteran, ibu sedang memasak, berjualan dan sebagainya. Pada usia ini ide-ide anak juga mulai berkembang, mulai bisa berteman, dapat memahami pendapat teman dan ada keinginan bergabung dengan kelompok lain.

2)   Perkembangan Anak Usia 5 – 6 tahun
      Anak usia 5-6 tahun adalah anak yang periang dan imajinatif. Mereka tiada hentinya bergerak dan berbuat sesuatu menggunakan gerakan tubuhnya secara kreatif, terutama dalam menggunakan kedua belah tangannya.
            Kemampuan dan tumbuh kembang anak perlu dirangsang oleh orang tua agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan sesuai umurnya. Stimulasi adalah perangsangan (penglihatan, bicara, pendengaran, perabaan) yang datang dari lingkungan anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah akan lebih cepat berkembang dibandingkan anak yang kurang bahkan tidak mendapat stimulasi.

B. Berat Badan Anak
            Faktor yang paling jelas mempengaruhi pertumbuhan adalah nutrisi. Selain mempengaruhi kecepatan pertumbuhan berat badan dan tinggi badan, nutrisi juga mempengaruhi kedewasaan anak. Anak yang makannya tidak bergizi dapat dirangsang untuk mempercepat pertumbuhannya dengan memperbaiki gizinya.
            Anak-anak yang tidak memperoleh ekstra protein pada waktu mudanya (kanak-kanak)cenderung bersikap pasif,dan tergantung pada orang dewasa,sedangkan bagi anak-anak yang memperoleh nutrisi yang cukup mereka bersikap gembira dan lebih bersikap sosial dengan teman bermainnya.
            Untuk memperkirakan berat badan anak dapat menggunakan rumus yang dikutip dari Behrman (1992). Karena anak usia pra sekolah termasuk termasuk ke dalam usia 1 – 6 tahun, maka untuk memperkirakan berat badannya digunakan rumus :
umur (tahun) x 2 + 8
Klasifikasi berat badan terhadap umur :



1. Gomez
Baku Boston
Cara : % dari median
Klasifikasi :
a. > 90 % : normal
b. 75 – 90 % : malnutrisi ringan
c. 61 – 75 % : malnutrisi sedang
d. ≤ 60 % : malnutrisi berat

2. Jellifre
Baku Boston
Cara : % dari median
Klasifikasi :
a. 90 – 110 % : normal
b. 81 – 90 % : malnutrisi ringan
c. 61 – 80 % : malnutrisi sedang
d. ≤ 60 % : malnutrisi berat


3. Klasifikasi menurut WHO
Baku NCHS
Cara : persentil
Klasifikasi :
a. Persentil ke 3 – 50 : normal
b. Persentil ≤ 3 : malnutrisi

4. Klasifikasi di Indonesia
Baku Boston
Cara : % dari median dan kenaikan berat badan
Klasifikasi :
Menggunakan modifikasi Gomez pada KMS, kemudian kenaikan berat badan dicatat pada KMS. Bila terdapat kenaikan tiap bulan : normal, bila tidak terdapat kenaikan : resiko tinggi terjadinya gangguan pertumbuhan.


C. Tinggi Badan Anak
            Bertambah tingginya anak terutama disebabkan oleh kematangan yang lebih awal,yaitu nutrisi yang cukup.
            Masih menurut Behrman (1992), perkiraan tinggi badan anak usia pra sekolah dapat menggunakan rumus : umur (tahun) x 6 + 77.
Rata-rata kenaikan tinggi badan anak pra sekolah antara 6 – 8 cm.
Klasifikasi tinggi badan terhadap umur :



1. Kanawati dan Mc Laren
a. ≥ 95 % : normal
b. 80 – 95 % : malnutrisi ringan
c. 85 – 90 % : malnutrisi sedang
d. 85 % : malnutrisi berat

2. CDC/ WHO
a. ≥ 90 % : normal
b. < 90 % : malnutrisi kronis






 

II. PERKEMBANGAN PSIKIS

Pemahaman mengenai tugas perkembangan anak sangat diperlukan agar guru dan orang tua dapat memberikan bantuan, dan rangsangan yang tepat.Secara garis besar karakteristik anak TK adalah sebagai berikut :Anak usia Taman Kanak-kanak dalam rentangan usia 4-5 atau 6 tahun berada dalam masa usia emas (golden age) segala sesuatunya sangat berharga, baik fisik, emosi, intelektualnya. Dan anak usia Taman Kanak-kanak ini sangat besar energinya sehingga diperlukan suatu pembelajaran yang sangat tepat sehingga berkembang kemampuan motorik kasar maupun halus. Perkembangan psikis anak TK terdiri dari perkembangan IQ, perkembangan emosi, perkembangan sosial, perkembangan bakat, perkembangan minat, perkembangan bahasa dan perkembangan moral. Berikut ini adalah pembahasannya :

 

1.      IQ

Setiap perkembangan otak anak TK itu bertumbuh ketika anak-anak diijinkan untuk bereksperimen dan mengeksplorasi bukan hanya mendengarkan. Ini bisa berasal dari sejumlah kegiatan yang berbeda, mulai dari hanya memiliki percakapan yang luas dengan anak untuk mengajari mereka untuk membaca keras-keras. Menurut Multnomah di Perpustakaan, anak-anak yang datang dari keluarga yang sering melakukan percakapan memiliki pemahaman lebih baik tentang bahasa daripada anak-anak yang memiliki rumah lebih tenang. Sebuah kelas eksplorasi di mana siswa dapat mendiskusikan apa yang mereka pelajari membantu siswa belajar untuk membuat koneksi kognitif dalam otak.

 

2.      Emosi

Salah satu tolak ukur kepribadian yang baik adalah kematangan emosi. Semakin matang emosi seseorang, akan kian stabil pula kepribadiannya. Untuk anak usia prasekolah, kemampuan mengekspresikan diri bisa dimulai dengan mengajari anak mengungkapkan emosinya.
Jadi, anak prasekolah dapat diajarkan bersikap asertif, yaitu sikap untuk menjaga hak-haknya tanpa harus merugikan orang lain. Saat mainannya direbut, kondisikan agar anak melakukan pembelaan. Entah dengan ucapan, semisal, “Itu mainan saya. Ayo kembalikan!”, atau dengan mengambil kembali mainan tersebut tanpa membahayakan siapa pun.
Ciri Emosional Pada Anak Prasekolah :
a)      Anak TK cenderung mengekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.
b)      Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.

3.      Sosial

Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial, dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma- norma kehidupan bermasyarakat.
Usia prasekolah memberi kesempatan luas kepada anak untuk mengembangkan keterampilan sosialnya. Di usia inilah ia mulai melihat dunia lain di luar dunia rumah bersama ayah-ibu. Kemampuan bersosialisasi harus terus diasah. Sebab, seberapa jauh anak bisa meniti kesuksesannya, amat ditentukan oleh banyaknya relasi yang sudah dijalin. Banyaknya teman juga membuat anak tidak gampang stres karena ia bisa lebih leluasa memutuskan kepada siapa akan curhat.
Ciri Sosial Ciri Anak Prasekolah atau TK
a)      Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial, mereka mau bermain dengan teman. Sahabat yang dipilih biasanya yang sama jenis kelaminnya, tetapi kemudian berkembang sahabat dari jenis kelamin yang berbeda.
b)      Kelompok bermain cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh karena kelompok tersebut cepat berganti-ganti.
c)      Anak lebih mudah seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar.



4.      Bakat

Bakat adalah kemampuan terhadap sesuatu yang menunjukkan kemampuan di atas rata – rata yang telah ada pada diri kita secara alamiah dan perlu dilatih untuk mencapai hasil yang maksimal. Adapun bakat yang dimiliki anak meliputi bakat linguistic, bakat musical, bakat logis – matematis, bakat spasial, bakat kinestetik, bakat interpersonal dan bakat intrapersonal.
Banyak yang mengeluh mengalami kesulitan ketika menentukan bakat mana yang harus dikembangkan atau bakat apa yang sesungguhnya dimiliki oleh anak. Untuk mengembangkan bakat seseorang kita harus tahu terlebih dahulu, ciri – ciri bakat yang dimiliki anak tersebut. Dengan mengetahui ciri – ciri bakat pada anak sebagai guru, kita akan lebih mudah untuk menilai bakat mana yang patut dikembangkan oleh anak. Hal inipun berfungsi untuk menghidari agar tidak terjadi salah praduga terhadap bakat anak. Adapun ciri – cirinya adalah sebagai berikut :
a)      Tidak merasa terpaksa untuk melakukan suatu hal bahkan lebih cenderung untuk senang melakukannya dan ada perasaan bahagia yang terpancar ketika melakukan, melihat atau bahkan hanya dengan mendengarnya saja
b)      Anak mampu berkonsentrasi terhadap hal tersebut, dan cenderung tekun.
c)      Mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap hal tersebut.
d)      Anak sudah mahir terhadap hal tersebut meski dia belum mendapatkan pelajaran khusus dari sekolah maupun dari rumah.
e)      Setelah diberi pelajaran khusus, anak tersebut dapat dengan mudah menguasainya atau mudah menangkap apa yang diajarkan padanya tentang hal tersebut.
Banyak orang yang kurang memperhatikan bakat yang ada pada dirinya, padahal bakat merupakan modal yang sangat penting untuk sang anak ketika beranjak dewasa nanti.
Ahli psikologi Abraham Maslow menemukan bahwa bakat yang terlahir dalam diri seseorang pada suatu saat akan timbul sebagai suatu kebutuhan, dan perlu mendapatkan perhatian serius
Karena itulah, bakat perlu perhatian serius dan jangan dianggap remeh. Bila bakat seorang anak diperhatikan dengan serius, akan sangat baik demi kemajuan masa depannya. Apalagi bila si anak anak sudah dibimbing pengembangan bakatnya sejak kecil. Sebagai guru yang bertanggung jawab untuk perkembangan bakat sang anak. Harus mengetahui hal apa saja yang perlu diperhatikan untuk pengembangan bakat anak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengembangkan bakat sang anak yaitu perhatian, motivasi, dukungan, pengetahuan, latihan, penghargaan, sarana, lingkungan, kerjasama, teladan yang baik.

 

5.      Minat

Dalam pengembangan minat anak pada suatu pelajaran memerlukan suatu proses pembelajaran yang terus menerus. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat dalam proses pembelajaran seorang anak. Faktor tersebut yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern menyangkut pribadi anak sendiri, antara lain genetik/keturunan, kemauan, kecerdasan kemampuan, kreativitas, minat, motivasi dan lain sebagainya, sedangkan faktor ekstern, yaitu faktor yang berada di luar pribadi anak didik, antara lain dukungan dari orang tua, lingkungan, guru, sekolah dan lain sebagainya. Kunci menumbuhkan minat belajar anak adalah mengetahui apa yang dapat membuat anak tertarik dan ingin belajar. Bagi anak usia delapan tahun ke bawah, belajar harus berangkat dari minat si anak itu sendiri. Berhitung (matematika) sebagai salah satu cabang pengetahuan yang banyak mendasari perkembangan ilmu pengetahuan lain, memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Berhitung dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia. Masalah yang berhubungan dengan bilangan mempunyai arti penting dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pernyatan ini maka setiap anak perlu dibekali pengetahuan berhitung yang cukup agar tidak mengalami kesulitan dalam mengatasi permasalahan dalam mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.

 

6.      Bahasa

Pada usia 4-6 tahun kemampuan berbahasa anak akan berkembang sejalan  dengan rasa ingin tahu serta sikap antusias yang tinggi, sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan dari anak dengan kemampuan bahasanya. Kemampuan berbahasa juga akan terus berkembang sejalan dengan intensitas anak pada teman sebayanya.
Dengan memperlihatkan suatu minat yang meningkat terhadap aspek-aspek  bahasa tulis, ia senang mengenal kata-kata yang menarik baginya dan mencoba menulis kata yang sering ditemukan. Anak juga senang belajar menulis namanya sendiri atau kata-kata yang berhubungan dengan sesuatu yang bermakna baginya. Antara usia 4 dan 5 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari empat sampai lima kata. Mereka juga mampu menggunakan kata depan seperti ”di bawah”, ”di dalam”, ”di atas” dan ”di samping”.  Antara 5 dan 6 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari enam sampai delapan kata. Mereka juga sudah dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana, dan juga mengetahui lawan kata. Mereka juga dapat menggunakan kata penghubung, kata depan dan kata sandang.

 

7.      Moral

Kemampuan sosialisasi yang berkembang membawa anak usia prasekolah masuk ke dalam berbagai kelompok baru di luar rumah, yaitu sekolah dan lingkungan sekitarnya. Sebagai bagian dari kelompok, anak prasekolah belajar mematuhi aturan kelompok dan menyadari konsekuensinya bila tidak mengikuti aturan tersebut. Anak usia prasekolah belajar perilaku moral lewat peniruan. Itulah sebabnya, orang-orang dewasa harus menghindari melakukan hal-hal yang buruk, semisal bicara kasar, memukul, mencela, dan lain-lainnya di depan anak. Sosialisasi juga membawa anak pada risiko konflik, terutama dengan teman sebaya. Oleh karenanya, kemampuan memecahkan konflik merupakan modal yang harus dimiliki anak. Semakin baik kemampuannya dalam hal ini, maka kepribadiannya akan semakin stabil. Anak yang pandai mengatasi konflik umumnya akan mudah pula mengatasi masalah dalam hidupnya, entah di sekolah, di rumah, ataupun kelak di tempat bekerja.










DAFTAR PUSTAKA

Engel, Joyce. Pengkajian Pediatrik. Edisi 2. Alih bahasa : Teresa. Jakarta : EGC, 1998
Suriati, Andi Amal. Mengembangkan Bakat Anak. Edisi 1. Yogyakarta : Andi, 2005
Tim Redaksi Fokus media. (2006). Sistem Pendidikan nasional 2006. Jakarta : Fokusmedia http://inci73.multiply.com/journal/item/126/Mengembangkan_Bakat_Anak
http://www.Bidanku.com; Nuansa Kualitas Bagi Keluarga

Strategi Pembelajaran Afektif


STRATEGI PEMBELAJARAN AFEKTIF ( NILAI SIKAP )


PENDAHULUAN
Pembentukan dan pengembangan sikap dan moral seorang siswa melalui pendidikan di sekolah menjadi sangat penting, dasar untuk membentuk pribadi yang bernilai merupakan kebutuhan jasmani selain kebutuhan akademis melalui ilmu pengetahuan. Namun demikian, kondisi kurikulum yang sangat padat, serta kendala-kendala lain menuntut proses pembelajaran pendidikan perlu dilakukan secara baik, mencapai tujuan, dan dapat menanamkan nilai-nilai agama tersebut untuk kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap (afektif) erat kaitannya dengan nilai yang dimiliki oleh seseorang, sikap merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki, oleh karenanya pendidikan sikap pada dasarnya adalah pendidikan nilai.
Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifat – sifatnya tersembunyi, tidak berada dalam dunia yang empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, layak dan tidak, pandangan seseorang tentang semua itu, tidak bisa dirubah. Kita mungkin hanya dapat mengetahui dari prilaku yang bersangkutan oleh karena itu, nilai pada dasarnya adalah standar perilaku sesorang. Dengan demikian, pendidikan nilai pada dasarnya proses penanaman perilaku kepada peserta didik yang diharapkan kepada siswa dapat berperilaku sesuai dengan pendangan yang di anggap baik dan tidak bertentangan dengan norma – norma yang berlaku.
Strategi pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai pendidikan kognitif saja, akan tetapi juga bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya. Yaitu sikap dan keterampilan afektif berhubungan dengan volume yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam, afeksi juga dapat muncul dalam kejadian behavioral yang di akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

 

 

 

 

PEMBAHASAN

A.  Pengertian Strategi Pembelajaran Afektif
Strategi pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai pendidikan kognitif saja, akan tetapi juga bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya. Yaitu sikap dan keterampilan afektif berhubungan dengan volume yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam, afeksi juga dapat muncul dalam kejadian behavioral yang di akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

B.  Hakikat Pendidikan Nilai dan Sikap
Sikap (afektif) erat kaitannya dengan nilai yang dimiliki oleh seseorang, sikap merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki, oleh karenanya pendidikan sikap pada dasarnya adalah pendidikan nilai.
Nilai, adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifat – sifatnya tersembunyi, tidak berada dalam dunia yang empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, layak dan tidak, pandangan seseorang tentang semua itu, tidak bisa dirubah. Kita mungkin hanya dapat mengetahui dari prilaku yang bersangkutan oleh karena itu, nilai pada dasarnya adalah standar perilaku sesorang. Dengan demikian, pendidikan nilai pada dasarnya proses penanaman perilaku kepada peserta didik yang diharapkan kepada siswa dapat berperilaku sesuai dengan pendangan yang di anggap baik dan tidak bertentangan dengan norma – norma yang berlaku.
Dougla Graham (Golu 2003) menyatakan 4 faktor merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai – nilai tertentu :
ü      Normativist : Kepatuhan yang terdapat pada norma – norma hokum.
ü      Integralist : Kepatuhan yang di dasarkan pada kesadaran dan pertimbangan–pertimbangan yang rasional.
ü      Fenomalist : Kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa – basi.
ü      Hedonist : Kepatuhan berdasarkan diri sendiri.
Nilai bagi seseorang tidaklah statis akan tetapi selalu berubah, setiap orang akan selalu menganggap sesuatu itu baik sesuai dengan pandangannya pada saat itu. Oleh sebab itu, system nilai yang dimiliki seseorang bisa di bina dan diarakhan. Komitmen seseorang terhadap suatu nilai tertentu terjadi melalu pembentukan sikap, yakni kecendrungan seseorang terhadap suatu objek, misalnya jika seseorang berhadapan dengan sesuatu objek, dia akan menunjukkan gejala senang atau tidak senang, suka atau tidak suka. Golu (2005) menyimpulkan tentang nilai tersebut :
ü      Nilai tidak bisa di ajarkan tetapi di ketahui dari penampilannya.
ü      Pengembangan dominan efektif pada nilai tidak bisa di pisahkan dari aspek kognitif dan psikomotorik.
ü      Masalah nilai adalah masalah emosional dan karena itu dapat berubah, berkembang, sehingga bisa di bina.
ü      Perkembangan nilai atau moral tidak akan terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap tertentu.
Sikap adalah kecendrungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan nilai yang di anggap baik atau tidak baik. Dengan demikian, belajar sikap berarti memperoleh kecendrungan untuk menerima atau menolak suatu objek penilaian terhadap objek itu sebagai hal yang berguna atau berharga (sikap positif) dan tidak berguna atau berharga (sikap negatif).

C.  Proses Pembentukan Sikap
1.   Pola Pembiasaan.
Dalam proses pembelajaran di sekolah, baik secara disadari maupun tidak, guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan, misalnya sikap siswa yang setiap kali menerima perilaku yang tidak menyenangkan dari guru, satu contoh mengejek atau menyinggung perasaan anak. Maka lama kelamaan akan timbul perasaa benci dari anak tersebut yang pada akhirnya dia juga akan membenci pada guru dan mata pelajarannya.
2.   Modeling.
Pembelajaran sikap dapat juga dilakukan melalui proses modeling yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses pencontohan. Salah satu karakteristik anak didik yang sadang berkembang adalah keinginan untuk malakukan peniruan (imitasi). Hal yang di tiru itu adalah perilaku – perilaku yang di peragakan atau di demonstrasikan oleh orang yang menjadi idamannya. Modeling adalah proses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya. Pemodelan biasanya di milai dari perasaan kagum.

D.    Model Strategi Pembelajaran Sikap
Di bawah ini disajikan beberapa model strategi pembelajaran pembentukan sikap
1.   Model Konsiderasi
Model konsiderasi dikembangkan oleh MC.Paul, seorang humanis. Paul menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognisi yang rasional. Pembelajaran moral siswa menurutnya adalah pembentukan pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Oleh sebab itu, model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian. Tujuannya adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain.
Implementasi model konsiderasi guru dapat mengikuti tahapan-tahapan pembelajaran seperti berikut:
a.       Menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ciptakan situasi ”Seandainya siswa ada dalam masalah tersebut“
b.      Menyuruh siswa untuk menganalisis sesuatu masalah dengan melihat bukan hanya yang tampak, tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut, misalnya perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain.
c.       Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menelaah perasaannya sendiri sebelum mendengar respons orang lain untuk dibandingkan.
d.      Mengajak siswa untuk menganalisis respons orang lain serta membuat kategori dari setiap respons yang diberikan siswa.
e.       Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa. Dalam tahapan ini siswa diajak berpikir tentang segala kemungkinan yang akan timbul sehubungan dengan tindakannya.
f.        Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
g.       Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.

2.   Model Pengembangan Kognitif
Model pengembangan kognisi dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg. Model ini banyak diilhami oleh pemikiran John Dewey yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung secara berangsur-angsur menurut urutan tertentu.Menurut Kolhberg,moral manusia itu berkembang melalui 3 tingkat, dan setiap tingkat terdiri dari 2 tahap.
a.   Tingkat Prakonvensional
Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri, artinya pertimbangan moral didasarkan pada pandangan secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat,terdiri dari 2 tahap yaitu :
1)   Orientasi hukuman dan kepatuhan
Artinya anak hanya berpikir bahwa perilaku yang benar itu adalah perilaku yang tidak akan mengakibatkan hukuman,dengan demikian setiap peraturan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan konsekuensi negative.
2)   Orientasi instrumental relative
Pada tahap ini perilaku anak didasarka pada perilaku adil,berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati.
b.   Tahap Konvensional
Pada tahap konvensional meliputi 2 tahap, yaitu :
1)   Keselarasan interpersonal
Pada tahap ini ditandai dengan perilaku yang ditampilkan individu didorong oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang lain.
2)   Sistem sosial dan kata hati
Pada tahap ini perilaku individu bukan didasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya.
c.    Tingkat Postkonvensional
Pada tingkat ini perilaku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma-norma masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasari oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki secara individu. Pada tahap ini ada 2 bagian yaitu :


1)   Kontra sosial
Pada tahap ini perilaku individu didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang diakui oleh masyarakat.
2)   Prinsip etis yang universal
Pada tahap ini perilaku manusia didasarkan pada prinsip-prinsip universal.

E.     Kesulitan dalam Pembelajaran Afektif
Pertama, selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual.dengan demikian keberhasilan proses pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah ditentukan oleh criteria kemampuan intelektual.
Kedua, sulitnya melakukan control karena banyaknya factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang.
Ketiga,keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera. Berbeda dengan keberhasilan pembentukan kognisi dan aspek ketrampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir.
Keempat,pengaruh kemajuan teknologi,khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan program acara,berdampak pada pembentukan karakter anak.
Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa di evaluasi dengan segera. Berdeda dengan aspek kognitif dan aspek keterampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir, keberhasilan dari pembentukan sikap dapat dilihat pada rentang waktu yang cukup panjang. Hal ini disebabkan sikap berhubungan dengan internalisasi nilai yang memerlukan proses lama.
Pengaruh kemajuan teknologi, berdampak pada pembentukan karakter anak, tidak bisa di pungkiri program-program TV yang menayangkan acara produksi luar negri yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, maka dari itu perlahan tapi pasti budaya asing yang belum cocok dengan budaya local menerobos dalam setiap ruang kehidupan.





PENUTUP
Kesimpulan
Banyak yang beranggapan bahwa pembelajaran afektif bukan untuk diajarkan, seperti pelajaran Biologi, Fisika ataupun Matematika. Pembelajaran afektif merupakan pembelajaran bagaimana sikap itu terbentuk setelah siswa memperoleh pembelajaran, oleh karena itu yang pas untuk afektif bukanlah pengajaran melainkan pendidikan. Afektif berhubungan sekali dengan nilai (Value) yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam. Dalam batas tertentu afektif dapat muncul dalam kejadian Behavioral, akan tetapi penilaian untuk sampai pada kesimpulan yang dapat di pertanggungjawabkan membutuhkan ketelitian dan observasi yang terus menerus dan hal ini tidak mudah dilakukan, dalam proses pembelajaran di sekolah, baik secara disadari maupun tidak guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan.
Yang termasuk kemampuan afektif adalah sebagai berikut :
a.       Menerima (Receiving) yaitu : kesediaan untuk memperhatikan
b.      Menanggapi (Responding), yaitu afektif berpartisipasi
c.       Menghargai (Valuing), yaitu penghargaan kepada benda, gejala, perbuatan tertentu
d.      Membentuk (Organization), yaitu : memadukan nilai yang berbeda
e.       Berpribadi (Characterization by Value of value complex), yaitu : Mempunyai sistem nilai yang mengendalikan perbuatan untuk menumbuhkan gaya hidup yang mantap





DAFTAR PUSTAKA
Joni T. Rakaa (1980) Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : P3G.
Wina Sanjaya (2008) Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana.