Kamis, 21 Juni 2012

Keterampilan Bertanya


BAB I
PENDAHULUAN

Mungkin kita bertanya, mengapa keterampilan bertanya dibahas pada mata kuliah kemampuan dasar mengajar ini? Mengapa tidak keterampilan membuka pelajaran kita bahas terlebih dahulu? Perlu anda ketahui bahwa urutan kedelapan keterampilan mengajar, seperti yang telah disebutkan menunjukkan urutan dari keterampilan yang lebih sederhana, tetapi bersifat mendasar sampai dengan keterampilan yang lebih kompleks. Artinya, keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang paling sederhana dibandingkan dengan keterampilan lainnya. Keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang bersifat mendasar yang dipersyaratkan bagi penguasaan keterampilan berikutnya. Untuk dapat menguasai keterampilan memberi penguatan, kita dituntut untuk sudah menguasai keterampilan bertanya, atau dengan kata lain, kita tidak mungkin menguasai keterampilan memberikan penguatan apabila kita belum menguasai keterampilan bertanya.
Berkenaan dengan pentingnya penguasaan keterampilan bertanya, setelah mempelajari keterampilan bertanya ini, kita diharapkan mampu menerapkan keterampilan bertanya dalam pembelajaran. Secara lebih khusus, kita diharapkan mampu :
1.      menjelaskan pentingnya keterampilan bertanya bagi guru
2.      memberikan contoh komponen-komponen keterampilan bertanya
3.      menerapkan keterampilan bertanya dalam kegiatan pembelajaran
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, untuk dapat menguasai keterampilan bertanya, kita dituntut untuk berlatih menerapkan keterampilan tersebut dengan bantuan teman sejawat atau sesama mahasiswa. Marilah kita mulai kegiatan belajar mengajar ini dengan mengkaji konsep-konsep yang perlu dikuasai agar kita mampu menerapkan keterampilan bertanya dalam pembelajaran.
Ada yang mengatakan bahwa “berpikir itu sendiri adalah bertanya”. Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenal. Respon yang di berikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir. Dalam proses belajar mengajar, bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat akan memberikan dampak positif. Pertanyaan yang baik di bagi menjadi dua jenis, yaitu pertanyaan menurut maksudnya dan pertanyaan menurut taksonomo Bloom.
Pertanyaan menurut maksudnya terdiri dari : Pertanyaan permintaan (compliance question), pertanyaan retoris (rhetorical question), pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question) dan pertanyaan menggali (probing question). Sedangkan pertanyaan menurut taksonomi Bloom, yaitu: pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowlagde question), pertanyaan pemahaman (conprehention question), pertanyaan penerapan (application question), pertanyaan sintetis (synthesis question) dan pertanyaan evaluasi (evaluation question).
Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, guru perlu menunjukkan sikap yang baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban siswa. Dan harus menghindari kebiasaan seperti : menjawab pertanyaan sendiri, mengulang jawaban siswa, mengulang pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan dengan jawaban serentak, menentukan siswa yang harus menjawab sebelum bertanya dan mengajukan pertanyaan ganda. Dalam proses belajar mengajar setiap pertanyaan, baik berupa kalimat tanya atau suruhan yang menuntut respons siswa sehingga dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, di masukkan dalam golongan pertanyaan. Ketrampilan bertanya di bedakan atas ketrampilan bertanya dasar dan ketrampilan bertanya lanjut.
Ketrampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan. Komponen-komponen yang di maksud adalah : Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singakat, Pemberian acuan, pemusatan, Pemindah giliran, Penyebaran, Pemberian waktu berpikir dan pemberian tuntunan.
Sedangkan ketrampilan bertanya lanjut merupakan lanjutan dari ketrampilan bertanya dasar yang lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berpikir siswa, memperbesar pertisipasi dan mendorong siswa agar dapat berinisiatif sendiri. Ketrampilan bertanya lanjut di bentuk di atas landasan penguasaan komponen-komponen bertanya dasar. Karena itu, semua komponen bertanya dasar masih dipakai dalam penerapan ketrampilan bertanya lanjut. Adapun komponen-komponen bertanya lanjut itu adalah : Pengubahan susunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan, Pengaturan urutan pertanyaan, Penggunaan pertanyaan pelacak dan peningkatan terjadinya interaksi.




BAB II
PEMBAHASAN

Bertanya merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam proses komunikasi, termasuk dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya merupakan ucapan atau pertanyaan yang dilontarkan guru sebagai stimulus untuk memunculkan atau menumbuhkan jawaban (respon) dari peserta didik.

A.        Rasional
Kegiatan bertanya dilakukan oleh semua orang tanpa memandang batas umur. Anak kecil sering mempertanyakan hal-hal yang ingin di ketahuinya, bahkan pada masa perkembangan anak ada masa yang disebut ”masa apa itu”, yaitu masa anak kecil mempertanyakan segala sesuatu yang dilihatnya. Orang muda dan orang tua juga merasa perlu mengajukan  pertanyaan jika berhadapan dengan suatu masalah yang harus dipecahkannya. Setujukah kita dengan pernyataan tersebut?
Dalam kegiatan pembelajaran, kegiatan bertanya cukup mendominasi kelas. Serentetan hasil penelitian yang dilakukan sejak awal abad ke-20 tentang kegiatan bertanya melaporkan hasil yang serupa yaitu bahwa guru menggunakan 30 % dari waktunya untuk bertanya (G.A.Brown dan R.edmondson, 1984). Data ini menunjukkan betapa pentingnya kegiatan bertanya dalam proses pembelajaran.
Pada umumnya, tujuan bertanya adalah untuk memperoleh informasi. Namun, kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru, tidak hanya bertujuan untuk memperoleh informasi, tetapi juga untuk meningkatkan terjadinya interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Dengan demikian, pertanyaan yang diajukan guru tidak semata-mata bertujuan mendapatkan informasi tentang pengetahuan siswanya, tetapi yang jauh lebih penting adalah untuk mendorong para siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan yang diajukan guru akan berpengaruh terhadap jawaban siswa. Pertanyaan yang jelas dan singkat akan mendapat jawaban yang jelas pula. Demikian pula cara guru mengajukan pertanyaan  akan mempengaruhi jawaban siswa. Pertanyaan diajukan dengan penuh kehangatan dan rasa simpati akan mendapatkan respon yang berbeda dengan pertanyaan yang diajukan secara dingin dan sikap acuh tak acuh.
Ada 4 alasan mengapa seorang guru perlu menguasai keterampilan bertanya, yaitu :
ü      Pertama, pada umumnya  guru masih cenderung mendominasi kelas dengan metode ceramahnya. Guru masih beranggapan bahwa dia adalah sumber informasi, sedangkan siswa adalah penerima informasi. Oleh karena anggapan yang demikian, siswa bersikap pasif dan menerima, tanpa keinginan/keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang menimbulkan keraguannya. Dengan dikuasainya keterampilan bertanya oleh guru, siswa dapat menjadi lebih aktif, kegiatan belajar menjadi lebih bervariasi, dan siswa dapat berfungsi sebagai sumber informasi.
ü      Kedua, kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat kita tidak membiasakan anak untuk bertanya sehingga keinginan anak untuk bertanya selalu terpendam. Situasi seperti ini menular ke dalam kelas. Kesempatan bertanya yang diberikan guru tidak banyak di manfaatkan oleh siswa, sedangkan guru tidak berusaha untuk mengugah keinginan siswa untuk bertanya.
ü      Ketiga, penerapan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA) dalam kegiatan pembelajaran menuntut keterlibatan siswa secara mental-intelektual. Salah satu ciri dari pendekatan ini adalah keberanian siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang memang perlu dipertanyakan. Hal ini hanya mungkin terjadi jika guru sendiri menguasai keterampilan bertanya yang mampu menggugah keinginan siswa untuk bertanya.
ü      Keempat, adanya anggapan bahwa pertanyaan yang diajukan guru hanya berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.

           
B.        Defenisi dan Fungsi Pertanyaan
Pertanyaan adalah sebuah ekspresi keingintahuan seseorang akan sebuah informasi yang dituangkan dalam sebuah kalimat tanya. G.A.Brown dan R.Edmondson (1984) mendefenisikan pertanyaan sebagai segala pertanyaan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan). Fungsi pertanyaan didalam kegiatan pembelajaran Menurut  Turney (1979) mendefenisikan 12 fungsi pertanyaan seperti itu :
1.      Membangkitkan minat  dan keingintahuan siswa tentang suatu topik.
2.      Memusatkan perhatian pada masalan tertentu.
3.      Menggalakkan penerapan belajar aktif.
4.      Merangsang siswa mengajukan pertanyaan sendiri.
5.      Menstruktur tugas – tugas hingga kegiatan belajar dapat berlangsung secara maksimal.
6.      Mendiagnosis kesulitan belajar siswa.
7.      Mengkomunikasikan dan merealisasikan bahwa semua siswa harus terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
8.      Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mendemonstrasikan  pemahamannya tentang informasi yang diberikan.
9.      Melibatkan siswa dalam memanfaatkan kesimpulan yang dapat mendorong mengembangkan proses berfikir.
10.  Mengembangkan kebiasaan menanggapi pertanyaan teman atau pernyataan guru.
11.  Memberi kesempatan untuk belajar berdiskusi.
12.  Menyatakan perasaan dan pikiran yang murni kepada siswa.
Masih banyak  lagi fungsi pertanyaan yang dilaporkan oleh para peneliti namun dari daftar diatas, sudah dapat kita simpulkan bahwa fungsi pertanyaan tersebut sangat bervariasi.
Jenis-jenis pertanyaan yaitu :
ü      Pertanyaan langsung, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada salah satu peserta didik
ü      Pertanyaan umum dan terbuka, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh kelas
ü      Pertanyaan retorik, yaitu pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban
ü      Pertanyaan faktual, yaitu pertanyaan untuk menggali fakta dan informasi
ü      Pertanyaaan yang diarahkan kembali, yaitu pertanyaan yang dikembalikan kepada peserta didik atas pertanyaan peserta didik lain
ü      Pertanyaan memimpin (Leading Question) yaitu pertanyaan yang jawabannya tersimpul dalam pertanyaan itu sendiri


C.            Komponen-Komponen Keterampilan Bertanya
Pada dasarnya, keterampilan bertanya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian dasar, yaitu keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Setiap jenis keterampilan bertanya tersebut akan diuraikan lebih terperinci berikut ini :
1. Keterampilan Bertanya Dasar 
Pengertian keterampilan bertanya dasar secara etimologis bertanya diuraikan menjadi dua suku kata yaitu “terampil dan tanya”. Menurut kamus bahasa Indonesia “bertanya” berasal dari kata “tanya” yang berarti antara lain permintaan keterangan. Sedangkan kata “terampil” memiliki arti “cakap dalam penyelesaian tugas ataupun mampu dan cekatan”. Dengan demikian keterampilan bertanya secara sederhana dapat diartikan dengan kecakapan atau kemampuan seseorang dalam meminta keterangan atau penjelasan dari orang lain atau pihak yang menjadi lawan bicara.
Menurut John. I. Bolla dalam proses pembalajaran setiap pertanyaan baik berupa kalimat tanya atau suruhan, yang menuntut respon siswa, sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berfikir, dimasukkan pertanyaan. Pendapat serupa dikemukakan oleh G.A. Brown dan R.Edmonson dalam Siti Julaeha, pertanyaan adalah segala pertanyaan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan).
Merujuk pada dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pertanyaan yang diajukan tidak selalu dalam rumusan kalimat Tanya, melainkan dalam bentuk suruhan atas pertanyaan, selain itu dimaksudkan adanya respon siswa.
Keterampilan bertanya dasar terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut :
a.  Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat 
Pertanyaan yang diajukan guru hendaknya singkat dan jelas sehingga mudah dipahami oleh para siswa. Pertanyaan yang demikian dapat dibuat denganmenggunakan struktur kalimat yang sederhana serta kata-kata yang sudah dikenal oleh para siswa. Coba bandingkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini :
1.              Apa yang menyebabkan sehingga banyak siswa jika diberi kesempatan bertanya tidak menggunakannya?
2.      Mengapa banyak siswa tidak menggunakan kesempatan bertanya?
Kita pasti setuju bahwa pertanyaan yang kedua jauh lebih jelas dan singkat daripada  pertanyaan yang pertama..
b. Pemberian acuan
Sebuah pertanyaan hanya dapat dijawab jika yang ditanya mengetahui informasi yang berakaitan dengan pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, sebelum bertanya, guru perlu memberikan acuan berupa informasi yang perlu diketahui siswa. Siswa akan mengolah informasi yang diberikan sehingga dapat menjawab pertanyaan guru. Acuan dapat diberikan pada awal pertanyaan atau sewaktu-waktu ketika guru akanmengajukan pertanyaan.
c.Pemusatan
Pertanyaan dapat dibagi menjadi pertanyaan luas dan pertanyaan sempit.Pertanyaan luas menuntut jawaban yang umum dan cukup luas, sedangkan pertanyaan sempit menuntut jawaban yang khusus / spesifik. Perhatikan contoh berikut : 1)Sebutkan tarian-tarian daerah dari Jawa Tengah!
2)Diantara tarian-tarian daerah dari Jawa Tengah, tarian apa yang merupakantarian anak-anak?
Pertanyaan pertama bersifat sangat luas (semua tarian daerah yang berasal dariJawa Tengah), sedangkan pertanyaan kedua sudah terpusat, yaitu hanya menanyakantarian daerah yang merupakan tarian anak-anak.
d. Pemindahan giliran
Ada kalanya, sebuah pertanyaan, lebih-lebih pertanyaan yang cukup kompleks,tidak dapat dijawab secara tuntas oleh seorang siswa. Dalam hal ini, guru perlumemberikan kesempatan kepada siswa lain dengan cara pemindahan giliran. Artinya,   setelah siswa pertama memberi jawaban, guru meminta siswa kedua melengkapi jawaban tesebut, kamudian meminta lagi siswa ketiga dan seterusnya. Cara seperti ini dapat mendorong siswa untuk selalu memperhatikan jawaban yang diberikan temannya serta meningkatkan interaksi antarsiswa.
e.     Penyebaran
Penyebaran pertanyaan berarti menyebarkan giliran untuk menjawab pertanyaanyang diajukan guru. Kalau mungkin semua siswa di dalam kelas mendapat giliran yangmerata untuk menjawab pertanyaan. Teknik penyebaran perlu diperhatikan guru, lebih-lebih bagi guru yang biasa mengajukan pertanyaan pada siswa tertentu. Ada kalanyaguru melupakan siswa yang duduk di deretan belakang sehingga aman dari kejaran pertanyaan guru.
Sama halnya dengan pemindah giliran, tujuan penyebaran pertanyaan adalah untuk meningkatkan perhatian dan partisipasi siswa. Bedanya, pada pemindah giliran, satu pertanyaan yang kompleks dijawab secara bergilir oleh beberapa orang siswa, sedangkan pada penyebaran, beberapa pertanyaan yang berbeda ditujukan kepada siswa yang berbeda untuk menjawabnya. Agar tujuan penyebaran dapat tercapai secara efektif, guru hendaknya menunjukkan pertanyaan kepada seluruh siswa, kemudian menyebarkan pertanyaan secara acak sehingga semua siswa siap untuk mendapat giliran.
 f.   Pemberian waktu berfikir 
Untuk menjawab satu pertanyaan, seseorang memerlukan waktu untuk berpikir. Demikian juga seorang siswa yang harus menjawab pertanyaan guru memerlukan waktu untuk memikirkan jawaban pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, setelah mengajukan pertanyaan guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum memintaatau menunjuk siswa untuk menjawabnya. Kebiasaan guru yang menunjuk siswa lebih dahulu untuk menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan diajukan, tidak dapat dibenarkan. Dengan menunjuk siswa terlebih dahulu, guru tidak memberikan waktu untuk berpikir. Disamping itu, siswa lain tidak akan memperhatikan pertanyaan guru.
 g.  Pemberian tuntunan
Kadang-kadang pertanyaan yang diajukan guru tidak dapat dijawab oleh siswaataupun jika ada yang menjawab, jawabannya tidak seperti yang diharapkan. Dalam hal ini, guru tidak boleh diam dan menunggu sampai siswa memberikan jawaban. Guruharus memberikan tuntunan yang memungkinkan siswa secara bertahap mampumemberikan jawaban yang diharapkan. Tuntunan dapat diberikan dengan berbagai cara antara lain :
1.              Memparafrase, yaitu mengungkapkan kembali pertanyaan dengan cara lain yang lebih mudah dan sederhana sehingga dapat dipahami oleh siswa.
2.              Mengajukan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang dapat menuntun siswa menemukan jawabannya.
3.              Mengulangi penjelasan / informasi sebelumnya yang berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan.

2. Keterampilan Bertanya Lanjut 
Keterampilan bertanya lanjut merupakan suatu keterampilan lanjutan daripada dasar yang lebih terfokus dalam mengembangkan kemampuan berpikir siswa, memperbesar partisipasi dalam mendorong siswa agar dapat berpartisipasi sendiri.
Sesuai dengan namanya, penguasaan atas keterampilan bertanya lanjut dibentuk  berdasarkan penguasaan keterampilan bertanya dasar. Ini berarti bahwa ketikamenerapkan atau menggunakan keterampilan bertanya dasar. Komponen keterampilan bertanya lanjut terdiri atas :
a.       Pengubahan tuntunan kognitif dalam menjawab pertanyaan 
b.      Pengaturan urutan pertanyaan
c.   Penggunaan pertanyaan pelacak 
d.    Peningkatan terjadinya interaksi
Keempat komponen tersebut akan diuraikan secara singkat berikut ini :
a.  Pengubahan tuntunan kognitif dalam menjawab pertanyaan
Pertanyaan yang diajukan guru mengundang siswa untuk berfikir. Berfikir merupakan proses mental yang terjadi dalam diri seseorang. Kualitas proses mental yang terjadi dalam diri siswa ketika memikirkan jawaban pertanyaan gurutergantung dari kualitas pertanyaan guru. Jika guru hanya mengajukan pertanyaanyang bersifat ingatan, seperti hanya menanyakan apa, siapa, dimana atau berapamaka proses mental yang terjadi dalam diri siswa rendah karena siswa tidak perlu berfikir, tetapi hanya mengingat. Tetapi jika guru mengajukan mengapa, bagaimana pendapatmu, jelaskan terjadinya, dan yang sejenis, siswa akan berfikir kerassehingga menuntut terjadinya proses mental tingkat tinggi.
b. Pengaturan urutan pertanyaan
Agar kemampuan berfikir siswa dapat berkembang secara baik dan wajar,guru hendaknya mengatur urutan pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan padatingkat tertentu hendaknya dimanfaatkan, kemudian beralih ke tingkat yang lebihtinggi. Oleh karena itu, tidak dapat dibenarkan jika guru sudah mengajukan pertanyaan yang menuntut siswa untuk melakukan analisis, padahal siswa belum mampu menjawab pertanyaan yang bersifat pemahaman. Urutan pertanyaan yang tidak teratur (misalnya yang bolak-balik dari tingkat tinggi ke rendah, tinggi lagi kemudian tingkat sedang), hanya akan membingungkan siswa dan dapat memghambat perkembangan kemampuan berfikir siswa.
c.  Penggunaan pertanyaan pelacak 
Jika guru mengajukan pertanyaan tingkat tinggi dan jawaban yang diberikanoleh siswa dianggap benar tetapi masih dapat dilengkapi lagi, guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak yang dapat membimbing siswa untuk mengembangkan jawaban yang diberikan. Teknik pertanyaan pelacak yang dapat digunakan guru, antara lain sebagai berikut :
  1. Minta klarifikasi. Teknik ini dipakai guru, jika jawaban siswa kurang jelas atau diungkapkan dengan kalimat yang kabur.
  2. Meminta siswa memberi alasan. Teknik ini dapat digunakan jika guru menginginkan siswa memberikan bukti-bukti dari pendapat atau pandangan yang diberikannya sebagai jawaban atas pertanyaan guru.
  3. Meminta kesepakatan pandangan siswa. Jika guru meminta pandangan siswa tentang suatu masalah dan seorang siswa sudah menyatakan pendapatnya, untuk mendapatkan kesepakatan dan kebenaran akan pendapat tersebut, guru dapat meminta pendapat siswa lain.
  4. Meminta ketepatan jawaban. Teknik ini dapat digunakan guru jika jawaban yang diberikan oleh siswa kurang tepat atau kurang sempurna. Pertanyaan pelacak yang diberikan guru diharapkan dapat menuntun siswa melengkapi atau memperbaiki jawaban yang diberikan tanpa membuat siswa menjadi malu.
  5. Meminta jawaban yang lebih relevan. Jika siswa memberikan jawaban yang kurang relevan dengan pertanyaan guru, guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak. Tujuan pertanyaan pelacak dalam kaitan ini adalah menyadarkan siswa akan ketidakrelevanan jawabannya, serta menuntun siswa untuk memberikan jawaban yang lebih relevan.
  6. Meminta contoh. Teknik ini hampir sama dengan teknik meminta siswa memberikan alasan, yaitu siswa memberikan jawaban yang samar-samar atau terlalu luas, guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak untuk meminta siswa memberikan ilustrasi atau contoh konkret dari jawabannya.
  7. Meminta jawaban yang lebih kompleks. Jika guru menganggap bahwa jawaban siswa masih dapat dikembangkan menjadi jawaban yang lebih kompleks, guru dapat mengajukan pertanyaan pelacak.
d.  Peningkatan terjadinya interaksi
Meningkatkan interaksi merupakan salah satu usaha untuk meningkatkanketerlibatan mental intelektual isswa secara maksimal. Dalam kaitan denganketerampilan bertanya lanjut, peningkatan terjadinya interaksi ini dapat dilakukandengan cara-cara berikut :
1)      Menghindari atau mengurangi pertanyaan yang hanya dijawab oleh seorang siswa, sebagai gantinya siswa diminta mendiskusikan jawaban pertanyaantersebut dalam pasangan atau kelompok kecil
2)             Mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan sehingga guru bukan satu-satunya orang yang bertanya dalam kelas
3)             Jika siswa mengajukan pertanyaan, berikan kesempatan kepada siswa lain untuk menjawab pertanyaan tersebut sehingga terjadi interaksi antarsiswa.
Dengan cara-cara tersebut, partisipasi siswa dalam kelas dapat ditingkatkan.


D.        Tipe Dan Syarat-Syarat Bertanya
Adapun Tipe dan bentuk pertanyaan sangat beragam, penggunaan dalam bentuk setiap pertanyaan bergantung pada tujuan  yang diharapkan, tipe pertanyaan yaitu:
a.       Pertanyaan yang menuntut fakta-fakta, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan atau melatih daya ingat siswa terhadap sesuatu yang pernah dipelajarinya.
b.      Pertanyaan yang menuntut kemampuan yang membandingkan,, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan atau melatih daya fakir analisis dan sintesis.
c.       Pertanyaan yang menuntut kemampuan memperkirakan, yaitu pertanyan untuk mengembangkan atau melatih kemampuan atau membuat perkiraan-perkiraan.
d.      Pertanyaan yang menuntut kemampuan analisis, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan dan melatih kemampuan daya analisis.
e.       Pertanyaan yang menuntut pengorganisasian, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan atau melatih kemampuan berfikir secara teratur.
f.        Pertanyan yang tidak perlu dikemukakan jawabannya, yaitu pertanyaan untuk memberikan penegasan atau meyakinkan tentang sesuatu kepada siswa, pertanyaan ini digolongkan dengan pertanyan retorika yang tidak perlu mendapatkan jawaban.

Syarat pertanyaan yang harus diperhatikan agar pertanyaan yang diajukan kepada siswa mendapat respon yang baik adalah:
1.      pertanyaan yang disampaikan dengan menggunakan kalimat atau bahasa yang mudah ditangkap oleh pihak yang ditanya (siswa).
2.      pertanyan diajukan secara klasikal, berikan waktu untuk berfikir kemudian baru diajukan salah seorang yang diminta untuk menjawabnya.
3.      beri kesempatan secara adil dan merata kepada setiap siswa untuk mendapatkan pertanyaan.
4.      penunjukan siswa yang diminta jawaban  tidak dilakukan secara berurutan atau sistematis, akan tetapi harus diusahakan secara acak agar setiap siswa memusatkan perhatian dan memiliki kesiapan untuk menjawab pertanyaan.
5.      kemukakan pertanyaan dengan nada yang enak dan raut muka yang manis

E.      Prinsip Penggunaan
Dalam menerapkan keterampilan bertanya, guru hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan atau hal-hal yang mempengaruhi keefektifan pertanyaan sebagai berikut :
1. Kehangatan dan Keantusiasan
Pertanyaan hendaknya diajukan dengan penuh keantusiasan dan kehangatan karenahal ini akan mempengaruhi kesungguhan siswa dalam menjawab pertanyaan.
2.  Menghindari Kebiasaan-kebiasaan Berikut 
a.  Mengulangi pertanyaan sendiri
Mengulangi pertanyaan sendiri akan membuat siswa tidak memperhatikan pertanyaan pertama sehingga menurunkan perhatian dan partisipasi siswa.
b. Mengulangi jawaban siswa
Mengulangi jawaban siswa yang bertujuan untuk memberikan penguatan sangat baik dilakukan oleh guru. Namun, jika guru terbiasa mengulangi jawaban siswa maka siswa lain tidak akan mendengarkan jawaban temannyakarena akan diulangi oleh guru.
c.  Menjawab pertanyaan sendiri
Guru cenderung menjawab sendiri pertanyaannya kalau siswa tidak adayang memberikan jawaban. Kebiasaan ini tidak baik karena dapat membuatsiswa frustasi dan malas berfikir.
d.  Mengajukan pertanyaan yang memancing jawaban serentak 
Sebagai satu selingan, guru kadang-kadang mengajukan pertanyaan yangmemancing jawaban serentak sehingga kelas jadi hidup. Namun, kalau hal inidibiasakan akan menurunkan fungsi pertanyaan karena guru tidak tahu siapayang menjawab dan siswa malas berfikir karena guru tidak meminta jawaban perorangan. Untuk menghindari kebiasaan ini, guru hendaknya menyusun pertanyaan secara baik dengan tingkat kesukaran yang sesuai sehingga siswatidak mungkin menjawabnya secara serentak.
e.  Mengajukan pertanyaan ganda
Kadang-kadang guru cenderung mengajukan pertanyaan yangmenanyakan beberapa hal sehingga siswa harus melakukan beberapa tugasdalam waktu yang singkat.Mislanya, sebutkan zat-zat yang terkandung dalam sayuran-sayuran segar,apa fungsinya bagi tubuh, dan apa akibatnya jika kita tidak pernah makan sayur.Pertanyaan tersebut semestinya dipecah menjadi 3 pertanyaan sehinggasiswa yang kurang mampu berfikir dapat memikirkan jawaban dengan tenangdan tidak menjadi frustasi.
 f.   Menentukan siswa yang akan menjawab pertanyaan
Guru kadang-kadang cenderung menunjuk siswa tertentu untuk menjawab pertanyaan yang akan diajukannya. Hal ini sebaiknya dihindari karena dapatmembuat siswa lain tidak memperhatikan pertanyaan guru. Sebaiknya gurumengajukan pertanyaan ke seluruh kelas, menunggu sejenak, kemudian barumenunjuk siswa tertentu untuk menjawabnya.
3. Memberikan Waktu Berfikir 
Pada pertanyaan tingkat lanjut, waktu berfikir yang diberikan hendaknya lebih lamadari waktu berfikir yang diberikan ketika menerapkan keterampilan bertanya dasar.Hal ini sangat perlu diperhatikan karena siswa memerlukan waktu yang cukupuntuk berfikir dan menyusun jawabannya.
4.  Mempersiapkan Pertanyaan Pokok yang akan Diajukan
Pertanyaan-pertanyaan pokok yang akan diajukan oleh guru hendaknya disiapkansecara cermat sehingga urutan tingkat kesukaran pertanyaan dapat disusun lebihdahulu dan materi pelajaran dapat dicakup secara tuntas.
5.  Menilai Pertanyaan Yang telah Diajukan
Pertanyaan-pertanyaan pokok hendaknya dinilai oleh guru setelah pelajaran berlangsung sehingga ketepatan jumlah pertanyaan, tingkat kesukaran, kualitas pertanyaan dalam mengembangkan kemampuan berfikir, dan cakupan materinya dapat diketahui dengan jelas.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan keterampilan bertanya tersebut, diharapkan guru akan mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa melalui pertanyaan-pertanyaan yang di ajukannya.

F.         Prinsip Bertanya Efektif
Beberapa anjuran terkait prinsip bertanya efektif di kelas dari Thomas R. McDaniel (2000) berikut ini :
1.      Merencanakan pertanyaan. Sebagian besar guru faktanya baru merencanakan pertanyaan yang akan diajukan kepada murid beberapa saat sebelum bertanya. Alangkah baiknya semua pertanyaan yang akan diajukan kepada murid sudah termaktub di rencana pelaksanaan pembelajaran (lesson plan).
2.      Menggunakan beragam level jenis pertanyaan sehingga mampu memfasilitasi kemampuan berpikir tingkat tinggi murid. Hal ini sangat penting dilakukan untuk membantu murid melatih kemampuan berpikirnya. Upayakan semua pertanyaan mengikuti kaidah mudah-sukar dan sederhana-rumit. Pertanyaan mudah bertujuan untuk memotivasi & meyakinkan murid bahwa pada prinsipnya mereka dapat menjawab setiap pertanyaan guru. Pertanyaan sulit sendiri bertujuan untuk merangsang murid melatih kemampuan berpikir tingkat tingginya. 
3.      Menyediakan waktu jeda kepada murid untuk menjawab pertanyaan.  Teknik ini dapat mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi murid di kelas. Ketika suasana di kelas hening tanda tak ada murid yang menjawab pertanyaan, berhitunglah dalam hati sampai hitungan 5. Trik ini perlu dilakukan untuk memberi kesempatan murid berpikir tentang jawaban mereka. Setelah itu, Anda persilahkan siapa di antara murid yang secara sukarela mau menjawab pertanyaan Anda. Lemparkan pertanyaan kepada seluruh murid, beri jeda waktu, dan tentukan salah satu murid secara acak untuk menjawab pertanyaan Anda, itu prinsip utamanya.
4.      Menahan diri untuk tidak segera memberikan opini terhadap jawaban murid pada jenis pertanyaan yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hindari kebiasaan untuk segera menanggapi jawaban murid. Berikan kesempatan kepada murid untuk saling mendengarkan jawaban di antara mereka. Karena itulah, mereka jadi saling belajar untuk melatih keterampilan berpikir.
5.      Jangan bermain aman. Maksudnya, jangan berikan pertanyaan yang kita sendiri sebagai guru sudah tahu jawabannya. Berikanlah pertanyaan kepada murid yang kita sendiri juga sebagai guru belum tahu jawaban pastinya, karena itulah kita juga sebagai guru sedang belajar melatih keterampilan berpikir. 
6.      Mendengarkan secara seksama setiap jawaban murid. Praktik ini sangat penting, khususnya ketika guru menyampaikan pertanyaan terbuka (Jawabannya tidak sekadar benar atau salah. Misal, Mengapa Indonesia sering dilanda bencana? Mengapa Indonesia bisa dijajah Belanda sampai 350 tahun, dan pertanyaan sejenis lainnya), pertanyaan kreatif, dan atau pertanyaan evaluatif. Keterampilan ini harus terus dikembangkan agar guru dapat ‘menangkap’ gagasan cemerlang dari setiap jawaban murid. 
7.      Memberikan penguatan positif atas jawaban murid. Jawaban singkat dari murid untuk jenis pertanyaan mengulang informasi (level pengetahuan pada Taksonomi Bloom – level berpikir paling rendah) harus segera dikonfirmasi, berupa pujian jika berhasil dijawab murid, atau koreksi jika jawaban murid kurang tepat. Sedangkan untuk merespon jawaban murid atas jenis pertanyaan berpikir tingkat tinggi, maka lakukan trik bertanya efektif no. 6 di atas.
8.      Menggunakan teknik bervariasi untuk meminta murid menjawab pertanyaan. Jika guru tetap ingin membuat murid merasa dilibatkan dalam menjawab pertanyaan, maka guru dapat mencoba menyebut salah satu nama murid secara acak, atau mengambil kartu yang sudah berisi nama-nama murid secara acak, atau bahkan melemparkan bola kepada murid yang hendak disuruh menjawab pertanyaan. Ingat, semua prosedur itu harus disepakati dulu bersama murid.
9.      Mengajarkan murid bagaimana cara menjawab pertanyaan. Cara ini mudah sekali dilakukan. Ketika ada salah satu murid akan menjawab pertanyaan, maka guru dapat meminta semua murid untuk ikut menyimak jawaban dari murid tersebut, “Anak-anak, mari kita simak bagaimana cara si A menjawab pertanyaan tadi!”.
10.  Mengajarkan murid bagaimana cara membuat pertanyaan. Ibarat pepatah, guru kencing berdiri murid kencing berlari. Kuasai keterampilan bertanya efektif, praktikan kehebatan Anda di kelas, kemudian refleksikan pengalaman Anda menguasai keterampilan bertanya efektif kepada murid, itulah cara terbaik mengajarkan murid bagaimana menguasai keterampilan bertanya efektif. 

BAB III
PENUTUP

A.        Kesimpulan
Keterampilan dasar bertanya mengandung dua unsur penting ; Pertanyaan dasar dan Pertanyaan lanjutan. Dalam melemparkan sebuah pertanyaan, seorang guru itu harus ada acuan, antara lain; memberikan pertanyaan jelas dan singkat, ada acuan yang berfungsi perhatian, pemberian giliran dengan cara memberikan pertanyaan secara bergiliran dan tuntunan, pertanyaan melacak dan pengubahan tuntunan tingkat kognitif.
Skill yang diperlukan oleh seorang guru; menguasai materi dan menguasai metodologinya. Keterampilan bertanya bertujuan untuk menumbuhkan motivasi, menumbuhkan minat belajar, memusatkan perhatian, melatih keterampilan berfikir dan mengkondisikan belajar. Pemberian tuntunan harus mendasar pada acuan ini; perintahnya harus dengan kalimat sederhana dan ada contoh. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh guru, antara lain ; memancing jawaban serentak, bertanya langsung dan berurutan, mengulangi jawab siswa, mengulangi pertanyaan sendiri, menyebut nama sebelum bertanya dan mengajukan pertanyaan benda.

B.        Saran
            Sebaiknya guru mencapai tujuan dari proses bertanya siswa yaitu :
ü      Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu terhadap pokok bahasan
ü      Memusatkan perhatian
ü      Mendiaknosis kegiatan khusus yang menghambat siswa belajar
ü      Mengembangkan SCL (Studen Center Learning)
Guru juga harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
ü      Kehangatan dan keantusiasan
ü      Kebiasaan yang harus dihindari
a.       Mengulangi Pertanyaan Sendiri
b.      Mengulangi Jawaban Siswa
c.       Menjawab Pertanyaan Sendiri
d.      Pertanyaan Yang Memancing Jawaban Serentak
e.       Pertanyaan Ganda
f.        Menentukan siswa tertentu untuk menjawabnya. Akibatnya anak yang   tidak ditunjuk tidak memikirkan jawabanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar